Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Muslim Uighur dan Perjuangan Pembebasan Papua Barat

Muslim Uighur dan Perjuangan Pembebasan Papua Barat Empati akan kemanusiaan tidak mengenal sekat-sekat agama ia berdiri sendiri tanpa campur tangan kepercayaan, empati akan kemanusiaan akan ada bila suatu manusia itu sadar diri dan turut merasakan rasa ketidakadilan dan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan yang dialami manusia yang lainnya. Saya orang kristen papua barat ikut bersolidaritas untuk mendukung muslim uighur agar bisa bebas dari cengkeraman maut sang kapitalis tiongkok, tiap hari ribuan ratusan orang uighur dibunuh, dilanggar haknya sebagai manusia, didiskriminasi hanya karena menjadi orang penganut agama kelas dua di tiongkok. Sementara kami dihebohkan oleh perjuangan klas masyarakat uighur yang sudah memasuki tahap internasionalisasi, saudara saya di yahukimo papua menjadi sasaran timah panas hanya akibat dari buang air kecil di samping polres, aneh bin ajaib nyawa melayang hanya karna masalah sepeleh seperti itu. Lanjutannya saudara melayu kami anggo...

Natal penuh duka di Papua, Sukacita Bougainville, dan Kawan Melayu.

Natal penuh duka di Papua, Sukacita Bougainville, dan Kawan Melayu. Natal hanya ungkapan hegemoni kolonial untuk membenarkan segala tindakan jahat dan tidak manusiawi terhadap manusia papua, sukacita natal itu begitu tidak terasa disini. Natal yang notabenenya dirayakan dengan sukacita oleh umat kristiani diseluruh dunia namun tidak untuk dipapua.           Seakan duka nestapa ini tiada akhir, ribuan mama papua menangisi anaknya yang hilang dan di cabut nyawanya oleh si malaikat pencabut nyawa itu. Seakan negara lebih penting daripada kemanusiaan, Nduga meratapi ribuan anak-nya yang mengungsi dilereng gunung serta menangisi kepergian anak-anaknya yang gugur di medan perang, Paniai Berduka karna begitu banyak memori pelanggaran yang tidak diselesaikan oleh negara, Yahukimo jadi ladang mencari makan sedang masyarakat asli Korowai Yahukimo pemilik susu dan madu serta isinya sakit dan kelaparan hingga meninggal, Biak belum melupakan trage...