Natal penuh duka di Papua, Sukacita Bougainville, dan Kawan Melayu.


Natal penuh duka di Papua, Sukacita Bougainville, dan Kawan Melayu.
Natal hanya ungkapan hegemoni kolonial untuk membenarkan segala tindakan jahat dan tidak manusiawi terhadap manusia papua, sukacita natal itu begitu tidak terasa disini. Natal yang notabenenya dirayakan dengan sukacita oleh umat kristiani diseluruh dunia namun tidak untuk dipapua.

         
Seakan duka nestapa ini tiada akhir, ribuan mama papua menangisi anaknya yang hilang dan di cabut nyawanya oleh si malaikat pencabut nyawa itu. Seakan negara lebih penting daripada kemanusiaan, Nduga meratapi ribuan anak-nya yang mengungsi dilereng gunung serta menangisi kepergian anak-anaknya yang gugur di medan perang, Paniai Berduka karna begitu banyak memori pelanggaran yang tidak diselesaikan oleh negara, Yahukimo jadi ladang mencari makan sedang masyarakat asli Korowai Yahukimo pemilik susu dan madu serta isinya sakit dan kelaparan hingga meninggal, Biak belum melupakan tragedi kejahatan kemanusiaan yang terjadi hampir satu dekade yang lalu, dan masih banyak luka lainnya yang tidak bisa dituliskan lagi karna cucuran air mata ini semakin deras ditengah dinginnya malam di tepian danau sentani.


 oh sentani, apa kabar sentani? anak-anak sentani dimanakah kalian sekarang? Kalian masih ingat Bapak Theys?
Begitu banyak pertanyaan buat kalian, mungkin malam ini saya berpikir jika bapak Theys masih hidup dia akan menangis melihat kalian.


Angin sepoi-sepoi membawa-ku pergi jauh ke arawa bougainville tempat saudara kami orang melanesia yang baru saja mengadakan referendum hasilnya 98% memilih merdeka, wah betapa bahagianya saudaraku disana mereka sudah tidak lagi menangisi tanahnya yang diambil dan dirampas oleh orang-orang rakus didunia ini, Bougainville Revolution Army telah berhasil mengusir Rio Tinto selamanya.


oh olgeta wantok long bougainville betapa bahagianya kalian sekarang, kami orangtuamu di pulau besar ini, masih terjajah oleh kawan kami dari melayu yang datang hanya untuk kepentingan ekonomis. Kami tidak salahkan kalian kawan-kawanku melayu yang kami sesalkan adalah kalian juga masih saja ingin di jajah oleh kekuatan besar imperialis barat yang rakus itu. Seharusnya kami bisa hidup damai sebagai orang-orang khatulistiwa yang sama.
Akhir perjalanan kuhabiskan air putih yang kuminum dari tadi sembari mengucapkan Selamat Natal Saudaraku di Melayu, Melanesia dan di seluruh belahan dunia.
Tolong jangan lupakan derita kami



By IMBALO, Dataran Robongholo, Numbay, Mamta, West Papua





Komentar